Tim pasti gabungan dari beberapa individu. Tiap anggota tim punya ketrampilan masing-masing. Leader harus mampu mengelolanya. Itulah seninya. Leader setelah tahu peta individu anggota timnya, ia bisa melakukan pendelegasian. Memberi kesempatan mengambil alih. Menciptakan tujuan bersama untuk mengembangkan keahlian dan kemajuan profesional individu/ Tentu saja nantinya yang juga berkontribusi terhadap pencapaian tim secara keseluruhan.
Mari ingatan kita putar beberapa tahun lalu. Banyak pelajaran dari kisah pada perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia. Tim sepakbola adalah gambaran tim yang efektif. Pemain pilihan didukung oleh tim yang multi talenta. Ada coach sebagai leader. Ada manajer tim yang mengurusi bagian umum. Tenaga medis juga ada. Melibatkan tenaga pengambil dan pengolah data. Satu sama lain saling melengkapi. Terlebih pada diri pemain. Ada yang spesialis juru gedor. Pengatur serangan. Pemain depan yang haus gol. Back yang bak tembok tapi lincah. Penjaga gawang yang refleknya ciamik, dan lain-lain.
Ketika itu ada tim yang mencatat sejarah. Tim Kroasia. Tapi siapa sangka, dinamika penuh drama bagaimana mengelola tim beranggotakan pemain hebat pada posisi dan punya nama besar.
Iya. Tim ini pernah memulangkan Nicola Kalinic, sang bomber AC Milan. Penyerang langgan timnas Kroasia sejak usia dini. Ia dipulangkan oleh sang pelatih, Zlatko Dalic. Apa pasal? Kalinic, yang merupakan salah satu pemain AC Milan menolak diturunkan ke lapangan sebagai pemain pengganti pada menit ke- 85. Injury time. Kala itu, Kroasia melawan Nigeria pada pertandingan fase grup. Ia merasa menjadi pemain kunci, pemain hebat, tidak layak dibangkucadangkan. Harusnya ia menjadi starter. Ia protes dengan cara menolak permintaan sang pelatih. Usai pertandingan pun ia enggan meminta maaf kepada pelatih dan tim atas kesombongannya itu. Ia lupa, bahwa ia bagian dari tim. Rasa kepemilikannya memudar, karena ia menganggap dirinya hebat. Ownershipnya luntur.
Keesokan paginya, sang pelatih mengambil tindakan tegas. Pelatih menyerahkan tiket pesawat pulang ke Kroasia kepada Kalinic. Pemain ini dipulangkan. Diminta angkat koper. Deretan penyerang berkurang 1 orang. Tentu ini memberatkan tim, rotasi pemain menjadi masalah. Apalagi Kroasia ketika itu sering bermain dengan perpanjangan waktu. Pergantian pemain adalah penyegaran.
Saat dipulangkan, bukannya menyesal. Kalinic nampak tak peduli bahkan cenderung bangga. Ia kedapatan mengunggah foto-fotonya di media sosial, saat sedang berwisata. Ia nampak ingin bilang, tanpa dirinya, tim Kroasia akan seperti macan ompong. Tidak bisa berbuat banyak. Keok. Tak bakal melaju ke babak knock-out.
Tapi apa yang terjadi? Tim Kroasia berhasil melewati babak awal. Tim yang memeproleh nilai sempurna, 9 dari 3 pertandingan. Mereka maju ke babak 16 besar. Dan terus melangkah maju bahkan hingga babak final.
Meski akhirnya harus puas dengan medali perak, tetapi itu adalah prestasi yang luar biasa. Permainan Kroasia di babak final ciamik. Meski kalah, kalah terhormat. Dengan kepala tegak tim Kroasia menerima medali perak. Jutaan pasang mata melihat daya juang, energi dan kesungguhan Tim Kroasia.